Pujegan adalah dukuh yang terpencil yang jarang orang mengetahuinya keberadaan dukuh pujegan tersebut.
Namun di dusun PUJEGAN banyak sejarahnya.ketika jaman belanda/jepang menjajah negara INDONESIA dahulu kala.
Maka desa PUJEGAN salah satu tempat sembunyi para pejuang indonesia.
Salah satu orang tua yang masa itu mengalami peristiwa tersebut adalah MUKRAM.orang yang juga selamat Dari serangan jepang/belanda pada waktu itu.
inilah cucu terakhir MUKRAM yang bernama SARIM RAGIEL SAPUTRA yang mungkin bisa menjelaskan atau menceritakan tentang dukuh PUJEGAN pada masa itu.karena cucu MUKRAM ini dekat dengan kakenya ( mukram ) yang sering bertanya pada kakenya mengenai peristiwa pada jaman belanda/jepang.
dukuh pujegan dukuh yang sangat kecil.dan kelurahannya pun sampai tahun 2013 masih ikut wadasmalang.wadasmalang adalah tempat yang dataranya lebih rendah di banding dukuh PUJEGAN.
dan desa wadas malang yang pernah menjadi kabupaten 10 bulan di masa itu.
selain mukram banyak juga orang tua yangmengalami masa itu.salah satu yaitu MADWIKARTA.yang di wawancarai wartawan suara merdeka.
Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung terletak yang cukup jauh dari pusat kota Kebumen. Berada sekitar 17 kilometer arah utara dari pusat kota, desa ini berada di kawasan hutan pinus milik Perhutani tepatnya di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karangsambung.
Desa Wadasmalang tak ubahnya berada di desa-desa lain di kawasan utara Kebumen. Antara lain infrastruktur berupa jalan yang masih buruk. Pahadal, keberadaan desa ini memiliki peranan sangat penting dalam sejarah pemerintahan Kebupaten Kebumen.
Ya, Desa Wadasmalang ternyata pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kebumen. Itu terjadi saat Kabupaten Kebumen dipimpin oleh Bupati R M Istikno Sosro Busono yang memerintah pada tahun 1948-1951. Pusat pemerintahan terpaksa diungsikan ke pelosok desa yang saat itu masih terisolir itu karena dampak terjadinya agresi militer Belanda II 1948-1949.
Sekitar 10 bulan pusat pemerintahan Kabupaten Kebumen dipindah sementara di desa tersebut. Selain Bupati, Kodim, Pengadilan, Wedana dan jawatan, semua pernah pindah di desa yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara itu. Selain kesaksian dari saksi sejarah, beberapa bukti bahwa pemerintahan pernah dipusatkan di Desa Wadasmalang juga masih ada.
Madwikarta (85) warga Dusun KaliKemong adalah salah satu saksi sejarah perpindahan pusat kota Kabupaten Kebumen. Pada tahun 1948 atau awal-awal Bung Karno menjadi Presiden RI I, Madwikarta mengaku menjadi Komandan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR). Saat agresi militer ke-2 Belanda pusat pemerintahan di Kota Kebumen tidak luput dari ancaman Belanda.
Untuk mengamankan pemerintahan, Sosro Busono sebagai bupati dan para pimpinan daerah, sepakat memindahkan pusat pemerintahan yang jauh dan sulit dari jangkauan sekutu. Pemerintahan Kebumen beserta jawatan boyongan ke Desa Wadasmalang pada 25 Maret 1949. Semula pemerintahan itu telah menyingkir ke Desa Kalirancang, Alian. Kerena pasukan Belanda terus mengejar, mereka mencari tempat yang aman dari kejaran Belanda. Dipilihlah, Desa Wadasalang yang saat itu
merupakan daerah terpencil dalam kawasan hutan belantara.
Selama 10 bulan, Bupati sempat membentuk pemerintahan kecamatan yang saat itu diberinama Kecamatan Sadang dengan pusat pemerintahannya Karangsambung. Kini Karangsambung menjadi Kecamatan Sendiri. "Adapun orang yang dilantik sebagai Camat I adalah R Isworo," kata Madwikarta saat ditemui Suara Merdeka, Selasa (1/2).
Dia menambakan, sejumlah bukti dapat dilihat dari tempat tinggal dan prasarana rumah tangga yang dibawanya saat itu. Saat berada di Wadasmalang Bupati Sosrobuwono bertempat tinggal di Dusun Kali Kemong. Saat itu Kali Kemong juga dipenuhi oleh tentara kuda putih (TNI) dan tentara Angkatan Oemat Islam (AOI) yang bermarkas di Somolangu.
"Saat itu mereka masih bersatu dan bersama-sama melawan Belanda," imbuhnya.
Bupati juga mendirikan rumah sakit darurat yang saat ini menjadi rumah Korsoni. Sedangkan Bupati beserta keluarganya dibuatkan rumah oleh masyarakat setempat, menggunakan tanah milik Ghofur.
Dia menambahkan, sebenarnya, bukti-bukti sejarah seperti tempat tidur dan gedong beberapa bulan lalu masih bisa diketemukan. Sayang saat ini barang-barang tersebut dijual oleh masyarakat. Saat ini yang masih tersisa hanyalah jembangan yang dipakai mandi oleh Bupati.
Setelah Belanda kalah dan tentara ditarik, pusat pemerintahan Kebumen kemudian dikembalikan lagi ke kota bersama. Seluruh keluarga serta perangkatkannya pun kembali meninggalkan Desa Wadasmalang. Atas peristiwa itu, salah satu tempat diberi nama dengan Dusun Bubak Kempyung karena pergi semuanya.
Sebagai desa yang bersejarah, keadaan Desa Wadasmalang tergolong masih sangat tertinggal. Padahal jika ditilik dari sejarah sebagai bekas pusat pemerintahan Kebumen semestinya pemerintah memberi perhatian lebih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar